Berarti saat Memberi Arti

Recommended by 38 people
. in Featured, Reflection . 4 min read
Recommended by 38 people

[box]Berarti saat Memberi Arti[/box]

Saat ini, di keseharian kehidupan kita ada sebagian orang yang cukup antusias dengan kita dan sebagiannya seolah menganggap kita tidak ada. Mereka yang tidak menganggap kehadiran kita di dunia ini ada yang mengenal kita, ada yang sekedar tahu, dan ada yang sama sekali tidak tahu kita. Bagi yang mengenal atau tahu, mereka menganggap kita ada di saat mereka memiliki kepentingan dengan kita. Di luar itu kita hanyalah penghias hidup di kehidupan mereka. Kapankah kita benar-benar dianggap ada oleh orang-orang di sekitar kita?

Tentu kita pernah melihat artis, mereka benar-benar dianggap ada di saat jaya dan mungkin selalu dianggap ada oleh sebagian orang meski ia telah di dalam tanah. Bahkan, sebagian kita begitu bangganya bercerita kepada kawan kita bahwa “artis A itu dulu adalah kawannya kakak saya sewaktu di SMA”. Meski jarak dia begitu jauh dengan sang artis, tapi begitu bangganya menyebut bahwa dia masih ada hubungan dengan sang artis meski tidak ada dampak apa-apa dia terhadap sang artis atau sang artis kepada dia. Yach..begitulah adanya, cukup bangga pokoknya.

Contoh sederhananya, guru teladan saya Prof. Imam Suprayogo. Dulu sewaktu kecil mungkin beliau hanya dianggap sebagai orang desa, yang ada tidaknya beliau pada saat itu bukanlah hal penting. Namun sekarang berbeda, hanya dengan bermodal nama beliau seseorang bisa menjadi terhormat. Suatu ketika seorang mahasiswa datang ke suatu lembaga untuk suatu urusan, pada awalnya dia hanya diperlakukan sama seperti mahasiswa dari Universitas lain. Tapi ketika si mahasiswa mengaku “saya mahasiswa Prof. Imam”, sontak sang pegawai di lembaga tersebut memberi layanan istimewa. Hal seperti ini sering dialami oleh mahasiswa di kampus yang dipimpin Prof. Imam Suprayogo, apalagi bila para mahasiswa sedang pengabdian masyarakat.

Jadi teringat kisah Aa Gym, yang inti ceritanya hampir sama. muchad mengetahui cerita ini dari seorang teman, muchad lupa siapa nama taman muchad yang dulu memberitahu. Begini kisahnya, suatu ketika Aa Gym minta tolong santrinya untuk membelikan bakso. Nach sang santri sewaktu membeli bakso bilang pada tukang baksonya bahwa dia membelikan bakso tersebut untuk Aa Gym. Teman-teman tahu kan apa yang terjadi, ya so pasti porsinya lebih istimewa dibanding pembeli yang lain padahal harganya sama.

Kejadian seperti ini pasti teman-teman juga pernah mengalami, begitu berartinya seseorang dalam kehidupan ini sehingga namanya saja bisa untuk memperoleh bakso yang lebih murah he..3x.

Kata-kata muchad di atas susah dipahami ga ya? Lanjut ya..

Mungkin saat ini, tiada seorang pun yang menganggap kita ada bahkan mengacuhkan kita. Namun suatu ketika bila kita memberi arti dalam kehidupan orang lain apalagi kepada orang banyak, insyaAllah pada saat itulah orang-orang di sekitar kita menganggap kita benar-benar ada. Dan, saat itulah akan ada seseorang yang begitu bangga dengan kita hanya karena dulu pernah hidup bersama kita padahal dulunya dia tidak mengenal, hanya sekedar tahu kita saja, atau bahkan dulunya mengacuhkan kita. Mari beri arti pada kehidupan kita, kehidupan orang di sekitar kita, dan semesta, kelak hidup kita kan berarti. Berikanlah kelak kan menerima..wallahu ‘alam

[Mukhlish muchad Fuadi: Ibnu Rusyd 3rd Floor Room 40 | 11.03.17:21.05]



Recommended stories
Responses
 
Write a response...
Your email address will not be published. Required fields are marked *