AKU JUGA SETAN

Recommended by 36 people
. in Reflection . 4 min read
Recommended by 36 people
Berjubah putih berjalan gontai di tengah padang pasir. Padang yang gersang, sepi dan sunyi. Semerbak angin melaju menyatu bersama debu menyiram muka Sang Kyai. Seorang alim berusia senja yang baru saja selesai berda’wah di desa sebelah. Keheningan di perjalanannya terusik oleh sebuah bayangan yang tampak pada bukit pasir di hadapannya. Perlahan mendekat, dekat dan dekat, bergaun putih berwajah bersih. Wanita, dia seorang wanita yang terlihat lesu tapi tak memudarkan ayunya. Cantik mempesona, Sang Kyai seolah bertemu bidadari yang siap melayani. Menoleh ke kanan, kiri, belakang dan kembali ke depan, Sang Kyai mulai menyukai situasi ini.

Masih sepi dan sunyi, tiada siapa pun kecuali empat mata yang berpapasan di daratan gersang. Tanpa pikiran panjang, Sang Kyai merangkul dan merobohkan wanita itu dan…terjadilah semua yang diinginkan Sang Kyai. Puas, Sang Kyai bangkit ingin segera meninggalkan wanita itu namun kembali ditatapnya wajah ayu itu. Aneh, wanita itu tampak tenang, diam dan tak bergeming. Tiada lagi nafas dari hidungnya, tiada lagi detak di dadanya, dia tak lagi bernyawa.

Air menetes dari mata sayu Sang Kyai, badannya jatuh bersimpuh seolah terbangun dari mimpi. Sadar, satu kesalahan besar telah dilakukan. Ia dongakkan kepalanya, buka mulutnya dan berteriak sekencang-kencangnya: “Ya Allah ampuni hamba, ini semua gara-gara setan-Mu yang terkutuk, yang telah memperdayaiku. Hukum dia dan ampuni hamba…!”.

Plak!!! Sebuah tamparan keras bersarang di pipi Sang Kyai hingga menghentikan munajat dan rintihannya. “Enak aja nyalah-nyalahin gue, dari tadi gue n teman-teman ngak ada di sini, yang nikmatin tuh elo sendiri, ngak ada hubungannya ma gue, dasar!”, bentak seekor setan (setan punya ekor y??!) yang kebetulan lewat.

Mengaku tidak bersalah dan seringkali menyalahkan, seolah telah menjadi tabiat manusia. Jika ada orang lain yang bisa disalahkan meski orang itu tidak pernah tahu masalahnya, langsung saja jari telunjuk mengarah kepadanya. Kalau tidak ada siapa-siapa yang bisa disalahkan, spontan sasaran terakhir adalah “setan”. Kesalahan-kesalahan yang bersifat personal kadangkala manusia kaitkan dengan setan, yang memang bertabiat sebagai penyesat. Satu kesalahan, wah ini pasti ulah setan, dua kesalahan, pasti setan ngajak teman-temannya ngalahin niat suci gue, tiga, empat kesalahan dan seterusnya. Akhirnya, menyerah seolah tiada harapan untuk melawan.

Benarkah setan yang membuat manusia melakukan kesalahan? Bukan hanya setan, manusia juga memiliki nafsu (nafsu amarah) yang bisa mengiring mulia menjadi hina. Meski setan dibelenggu di bulan suci ramadhan tetap saja manusia melakukan kesalahan. Selain itu apakah keuntungannya bila manusia menudingkan kesalahannya pada setan? Manusia seringkali malah lupa diri, bahwa dirinya pun memiliki potensi untuk salah.

Mungkin tidak seekstrim cerita di atas, tapi manusia seringkali melimpahkan kesalahannya ke setan baik secara langsung ataupun sekedar menganjal di hati. Alangkah tawadhu’nya manusia ketika ia bersedia mengakui kesalahannya bukan hanya pada sesama manusia tapi juga kepada Tuhan penciptanya atau juga mengakui bahwa dia pun sewaktu ketika menjadi setan atau bahkan lebih hina.

Memang kadang sulit untuk menyalahkan diri sendiri dan mungkin cukup berat untuk meninggalkan ungkapan-ungkapan yang bermakna mengalihkan kesalahan pada setan, ungkapan yang dengan mudah dan spontan terucap begitu saja. Untungnya, setan tidak bisa menampar manusia ketika manusia menyalahkannya.



Recommended stories
Responses
 
Write a response...
Your email address will not be published. Required fields are marked *

muchad.com Comments List
muchad.com comments

ceritanya bagus dan unik ustadz…..kalau bisa jika ada cerita lucu tapi memotivasi diri,,,,boleh juga itu

    muchad.com comments

    ya silahkan, dgn ttp mencantumkan penulisnya ya 🙂